Yang Merdeka Orang yang di Bawah Tenda

oleh -581 Dilihat
oleh

 

Oleh: Yupantri PJS

 

 

Telisikpublik.com – Ada sebuah kalimat sederhana yang terdengar seperti gurauan, tetapi sesungguhnya menyimpan kritik sosial yang dalam: “Yang merdeka orang yang di bawah tenda.”

Kalimat itu terasa relevan ketika perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia kembali digelar dengan berbagai seremoni. Bendera Merah Putih berkibar, lagu kebangsaan dikumandangkan, pidato tentang perjuangan dan persatuan disampaikan. Namun, di tengah suasana khidmat tersebut, muncul pertanyaan yang barangkali lebih penting: sejauh mana kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh rakyat?

Di satu sisi, mereka yang berada di bawah tenda dapat menikmati tempat yang teduh dan nyaman. Di sisi lain, rakyat biasa berdiri di bawah terik matahari, menunggu rangkaian acara selesai. Pemandangan semacam ini mungkin terlihat sederhana. Namun jika direnungkan lebih jauh, ia menjadi metafora tentang jarak antara mereka yang memiliki kuasa dan masyarakat yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup.

Tentu, tenda dalam sebuah acara bukanlah persoalan besar. Pejabat dan tamu undangan juga memiliki kebutuhan untuk mendapatkan tempat yang layak. Persoalannya bukan pada tendanya, melainkan pada makna yang ditimbulkan ketika kenyamanan hanya terasa dekat dengan kekuasaan, sementara sebagian rakyat masih harus berjuang menghadapi berbagai kesulitan.

Kemerdekaan tidak seharusnya hanya diukur dari terbebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus hadir dalam bentuk kesempatan yang setara, pendidikan yang dapat dijangkau, pelayanan publik yang adil, ekonomi yang memberi ruang bagi masyarakat kecil, serta hukum yang tidak membedakan siapa yang kuat dan siapa yang lemah.

Sebab, apa arti kemerdekaan jika masih ada orang tua yang khawatir terhadap biaya sekolah anaknya? Apa makna kemerdekaan jika petani masih kesulitan mendapatkan kepastian atas tanah dan hasil produksinya? Apa arti sebuah perayaan kemerdekaan jika masyarakat kecil masih merasa bahwa suara mereka tidak cukup kuat untuk didengar?

Kita memang telah merdeka dari penjajahan. Tetapi perjuangan belum selesai.

Hari ini, perjuangan itu berubah bentuk. Bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah, melainkan melawan kemiskinan, ketimpangan, korupsi, ketidakadilan, buruknya pelayanan, serta berbagai persoalan yang membuat sebagian rakyat belum sepenuhnya menikmati hasil kemerdekaan.

Karena itu, perayaan HUT Kemerdekaan seharusnya tidak hanya menjadi panggung untuk mengulang kata-kata tentang perjuangan para pahlawan. Momentum tersebut semestinya menjadi kesempatan untuk bercermin: apakah negara sudah benar-benar hadir bagi seluruh rakyatnya?

Jangan sampai kemerdekaan hanya menjadi milik mereka yang duduk nyaman di bawah tenda, sementara rakyat yang berada di luar tenda sekadar menjadi penonton.

Tenda boleh berdiri. Upacara boleh berlangsung. Pidato boleh disampaikan. Tetapi jangan pernah lupa bahwa di luar tenda ada rakyat yang menjadi alasan mengapa negara ini harus terus diperjuangkan.

Kemerdekaan sejati bukanlah soal siapa yang mendapatkan tempat paling teduh. Kemerdekaan sejati adalah ketika tidak ada lagi rakyat yang merasa berada di luar pagar keadilan.

Merdeka bukan sekadar bebas mengibarkan bendera. Merdeka adalah ketika setiap rakyat memiliki kesempatan yang sama untuk hidup layak, didengar, dihormati, dan mendapatkan keadilan.

Maka, pada HUT ke-81 Republik Indonesia ini, barangkali kita perlu kembali bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kita benar-benar sudah merdeka, atau hanya sedang merayakan kemerdekaan dari bawah tenda?****red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.